Bank Limbah, Jembatan Pengolahan Limbah

Dalam menjalankan pengolahan limbah yang melibatkan masyarakat sipil, pemerintah Indonesia mencanangkan program Bank Limbah. Bank ini memberi kesempatan bagi tiap warga untuk memisahkan tiap sampah rumah tangga. Untuk sampah organik, Bank Limbah memberikan metode-metode praktis yang dapat digunakan untuk menjadikan sampah sebagai kompos. Untuk sampah plastik, Bank Limbah memberikan Rp 2000-4000 untuk tiap kilogram plastik.

Menurut laporan The Jakarta Globe, walikota Jakarta Timur menyatakan bahwa eksistensi Bank Sampah dapat menumbuhkan kesadaran bagi para warga mengenai kebersihan. Masyarakat diajak oleh pemerintah untuk ikut terlibat dalam pengolahan limbah yang sederhana. Hal ini menjadi langkah awal yang cukup baik untuk menunjukkan pentingnya partisipasi tiap elemen dalam pengolahan limbah yang lebih efektif.

Berangkat dari inisiatif pembentukan Bank Limbah, pengolahan limbah di Indonesia memang telah menjadi masalaha yang cukup penting, khususnya di megacity seperti Jakarta. Yang menjadi pertanyaan adalah sebenarnya faktor apa yang memicu peningkatan limbah di kota besar?

Beberapa asumsi menyatakan

(a) jumlah populasi meingkat. Jumlah penduduk yang semakin besar menimbulkan permintaan produk yang semakin tinggi juga. Permintaan produk yang tinggi memicu industri manufaktur memproduksi barang lebih banyak. Berangkat dari hal ini jumlah limbah industri maupun limbah rumah tangga pun meningkat.

(b) budaya konsumsi. Budaya konsumsi ini setara dengan meningkatnya jumlah kelas menengah di Indonesia. Khususnya di Jakarta, gaya hidup yang ‘berkelas’ membuat masyarakat menjadi konsumtif dan bahkan didukung dengan daya beli yang cukup untuk memenuhi keinginan tersebut. Maka budaya konsumtif menjadi pemicu meningkatnya jumlah limbah.

(c) kesadaran akan lingkungan yang menurun. Berangkat dari ketidakpedulian, masyarakat Indonesia melupakan kembali pentingnya kondisi lingkungan yang hijau dan mampu bertahan. Pembuangan sampah yang masih tidak pada tempatnya dan menyebabkan kebanjiran, membuat Jakarta, menjadi kota yang ‘kotor’ dengan sampah dan limbah yang tidak terkelola dengan baik. Masyarakat di sini tentu bertanggung jawab untuk menciptakan kembali kesadaran akan lingkungan yang lebih baik.

Dari asumsi di atas, kehadiran Bank Limbah harusnya dapat menjadi jembatan penghubung antara kebijakan lingkungan dan industri pemerintah dengan masyarakat luas. Pengolahan limbah tidak dapat dipandang sebelah mata dan perlu mendapat perhatian dari semua pihak. 

One thought on “Bank Limbah, Jembatan Pengolahan Limbah

  1. Pingback: Pengolahan Limbah Padat Perkotaan | Pengolahan Limbah 101

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s