Limbah B3 Radiasi Nuklir

BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional) baru-baru ini mengeluarkan sebuah pernyataan resmi yang disampaikan oleh Kepala Biro Kerja Sama, Hukum, dan Hubungan Masyarakat. Dalam pernyataan resmi tersebut BATAN mencoba memberikan pandangan mengenai bagaimana PLTN mampu menjadi sumber energi alternatif yang lebih bersih dibanding minyak. Beberapa data mengenai risiko kecelakaan, infrastruktur pembangunan, dan penanganan limbah radiasi yang dikategorikan limbah B3 disampaikan untuk memberi pengetahuan bagi masyarakat mengenai energi nuklir.

Energi Kontroversial

Semenjak peristiwa Chernobyl dan Fukushima, kecurigaan akan bahaya energi nuklir menjadi semakin tinggi. Negara yang mengembangkan teknologi nuklir dianggap belum mampu menangani dampak limbah radiasi yang dihasilkan. Limbah nuklir memiliki efek lebih dari limbah B3 karena dampaknya bersifat geneologis. Artinya jika masuk ke tubuh seseorang, keturunan orang yang terkena radiasi nuklir juga mendapatkan dampak. Bagi para aktivis lingkungan, kesalahan yang terjadi dari pengelolaan energi nuklir terlalu besar. Risikonya tidak sebanding dengan apa yang dihasilkan dari energi nuklir. Belum lagi kemungkinan nuklir menjadi senjata pemusnah massal membuat beberapa kelompok masyarakat menolak mentah-mentah penggunaannya.

Namun di sisi yang lain, energi nuklir mampu menjadi revolusi dalam penggunaan energi di dunia. Suplai uranium di dunia masih cukup banyak dibandingkan suplai bahan bakar fosil yang mulai mengalami kelangkaan dan butuh ribuan tahun lagi untuk menghasilkan suplai tersebut. Selain karena kebersihan, dengan teknologi yang sudah berkembang saat ini, energi nuklir dapat diatur sedemikian rupa, termasuk dalam pengolahan limbah. Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) menjadi pengawas bagi negara-negara pengembang nuklir dan kontrol serta evaluasinya dilakukan secara ketat. Secara sistem kebijakan maupun pelaksanaan, nuklir sebagai energi alternatif mampu dikembangkan dengan baik.

Nuklir di Indonesia

Menurut laporan BATAN, banyak pihak yang merugikan kemampuan Indonesia mengembangkan energi nuklir. Memang, karena kasus korupsi dan potensi bencana alam di beberapa daerah Indonesia, hal ini membuat masyarakat merasa riskan terhadap pelaksaannya. Namun BATAN sendiri berpikir dengan sangat optimis dalam pelaksanaan PLTN Indonesia dan tentu membutuhkan dukungan dari semua pihak. Baik dari segi teknologi maupun SDM, BATAN meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 150 juta membutuhkan PLTN sebagai energi cadangan mengingat populasi dan kebutuhan energi akan semakin meningkat dalam 10 tahun ke depan.

Berangkat dari situasi tersebut, pro kontra penanganan limbah radiasi sebagai limbah B3 dari pembangunan PLTN pun masih terus berlanjut hingga saat ini. Budaya elit pemerintah yang masih korup ditambah kecurigaan masyarakat Indonesia membuat BATAN sedikit terhambat dalam proyeknya. Distribusi energi di Indonesia pun akhirnya mengalami hambatan karena permasalahan politik dan sosial yang seharusnya mampu diantisipasi melalui kesadaran dan keterbukaan dari pihak pemerintah, privat, maupun masyarakat sipil. 

5 thoughts on “Limbah B3 Radiasi Nuklir

  1. Pingback: Pemanfaatan Limbah Jadi Energi | Pengolahan Limbah 101

  2. Pingback: Limbah B3 Dibuang ke Gunung Berapi? | Pengolahan Limbah 101

  3. Pingback: Aseton, Limbah B3 Rumah Tangga | Pengolahan Limbah 101

  4. Pingback: Manfaat Pengelolaan Limbah B3 yang Tepat | Pengolahan Limbah 101

  5. Pingback: Strategi Utama Pengolahan Limbah B3 | Pengolahan Limbah 101

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s